RBNnews.co.id, Anambas – Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat di Bandar Udara Letung pada Rabu (13/05/26), saat Ketua Koordinator Pengiriman Ikan Satu Pintu Jemaja, Alizar, bertemu langsung dengan Kepala Pos Syahbandar Letung, Ponco.
Pertemuan singkat tersebut menjadi penanda meredanya persoalan yang sempat ramai diperbincangkan masyarakat dan media sosial terkait pengiriman ikan menggunakan kapal very cepat rute Tanjungpinang – Batam – Letung – Tarempa pulang – pergi (PP).
Sebelumnya sempat terjadi miskomunikasi antara pihak Syahbandar Letung dengan Koordinator Pengiriman Ikan Jemaja.
Situasi memanas setelah aksi spontan Alizar koordinator Pengiriman ikan satu pintu, di atas kapal very cepat VOC Batavia viral di media sosial dan memicu berbagai tanggapan masyarakat.
Dalam pertemuan itu, tampak hadir mendampingi Kapolres Anambas, Kapolsek Jemaja, serta Camat Jemaja. Kehadiran unsur Forkopimda tersebut menunjukkan upaya bersama menjaga situasi tetap kondusif.
Kepala Pos Syahbandar Letung, Ponco, menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi murni disebabkan oleh kesalahpahaman dan miskomunikasi antarpihak.
“Permasalahan kemarin itu sebenarnya hanya kesalahpahaman dan miskomunikasi saja. Dari pihak Syahbandar sendiri tidak ada masalah. Kami hanya meminta agar semua tetap mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku,” ujar Ponco, Rabu (13/05/26).
Ia juga meluruskan soal surat yang sebelumnya diajukan pihak koordinator pengiriman ikan.
“Mengenai surat dari koordinator yang disampaikan di awal, bukan berarti kami tidak menanggapi atau tidak berkoordinasi. Saat itu kami masih melakukan komunikasi dengan pihak kapal dan menunggu jawaban dari mereka. Intinya hanya miskomunikasi saja,” jelasnya.
Menurut Ponco, pihak Syahbandar hanya bertugas melakukan pengawasan terhadap keselamatan penumpang dan operasional pelabuhan. Sementara urusan teknis pengangkutan ikan diserahkan kepada agen kapal dan koordinator pengiriman.
“Kalau sudah diatur oleh pihak kapal dan agen, kami hanya mengawasi. Yang menentukan kapasitas muatan dan teknis lainnya tetap pihak kapal,” katanya.
Ponco juga menegaskan bahwa persoalan tersebut kini telah selesai setelah dilakukan rapat bersama pihak kami Syahbandar, dan Pemilik kapal.
Ia juga mengatakan bahwa tadi pihaknya juga bertemu dengan koordinator pengiriman ikan pak Alizar. Namun demikian, masih ada beberapa pembahasan lanjutan yang nantinya akan kembali didiskusikan bersama.
“Saat ini saya masih ada tugas di luar sekitar dua mingguan. Setelah tugas selesai, nanti pasti akan didudukkan kembali mengenai hasil rapat kemarin yang belum selesai, termasuk bersama agen di Letung terkait barang kiriman masyarakat termasuk ikan nantinya,”
Sementara itu, Ketua Koordinator Pengiriman Ikan Satu Pintu Jemaja, Alizar, mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan kembali dilakukan pertemuan lanjutan untuk membahas persoalan yang belum tuntas, terutama terkait harga pengiriman ikan.
“Kalau menurut penyampaian Pak ponco Syahbandar tadi, sekitar dua minggu ke depan insya Allah akan ada pertemuan lagi. Berdasarkan diskusi singkat yang kami lakukan tadi bersama Kapolres, Kapolsek, dan Camat Jemaja, untuk pengiriman ikan sebenarnya sudah diperbolehkan dan tinggal melalui agen di Letung,” ujar Alizar.
Menurutnya, saat ini yang masih menjadi pembahasan ialah persoalan biaya atau harga pengiriman yang dinilai masih memberatkan pihak pengepul dan nelayan.
“Tinggal negosiasi soal harga. Tadi ada penyampaian sekitar Rp10 ribu per kilogram, dan itu menurut kami masih berat. Karena ikan yang kami kirim itu bukan semuanya ikan dengan harga tinggi,” jelasnya.
Ia menerangkan, sebagian besar ikan yang dikirim Pengepul memiliki harga pasar yang relatif rendah, seperti ikan selayang, selar, dan jenis lainnya dengan harga berkisar Rp9 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.
“Kalau biaya pengiriman terlalu tinggi tentu kalkulasinya tidak memungkinkan bagi kami. Makanya kami berharap ada negosiasi lagi terkait harga pengiriman,” katanya.
Iya juga mengungkapkan bahwa pengiriman ikan memakai kapal very cepat ini hanya sambil menunggu kargo yang akan berangkat kepinang,
“Pengiriman ikan kami hanya menunggu kapal kargo berangkat, kalau lama berangkat alternati very dulu yang akan kita kirimakan dengan jumlah Kecil dan ikan yang cepat pecah perut” imbuhnya
Alizar juga menegaskan bahwa dirinya akan menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada para nelayan dan pengepul ikan yang ingin mengirimkan ikan memakai very cepat nantinya.
“Saya selaku koordinator pengiriman ikan akan menyampaikan kepada teman – teman di lapangan bahwa persoalan ini tinggal duduk bersama terkait harga pengiriman,” ujarnya.
Ia mengaku mendengar adanya informasi bahwa pengiriman ikan nantinya harus dilengkapi surat dokumen karantina tertentu.
Menurutnya, hal itu akan cukup memberatkan Pengepul kecil apabila seluruh pengurusan dibebankan kepada mereka.
“Pengiriman kami ini sangat minim dan tergantung kondisi cuaca juga. Kalau cuaca tidak mendukung, kami pun tidak mengirim. Jadi kalau harus ada banyak persyaratan tambahan tentu menjadi beban bagi masyarakat nelayan,” tutup Alizar.
Dengan adanya pertemuan tersebut, diharapkan meredakan asumsi – asumsi yang berbeda pendapat dikalangan masyarakat jemaja.
Aktivitas pengiriman ikan dan operasional kapal very cepat pun dipastikan tetap berjalan normal, pengiriman ikan menunggu pertemuan lanjutan antara pihak terkait. (Red)












