Suara Lantang dari Solok, Mubaligh se-Sumbar Desak Pemda Terbitkan Perda Anti Maksiat

RBNnews.co.id, Solok – Menghadapi era disrupsi digital yang kian masif, dunia dakwah Indonesia berada di persimpangan jalan yang krusial.

Guna mengaktualkan bahwa, da’wah Islamiyah bukanlah hanya di mimbar masjid saja, tetapi Muballigh sudah wajib cerdas menggunakan gawainya di era medsos dan digital.

Konten-konten hoax, demonstratif, tak utuh, hanya singkat, terkadang lebih diminati audiens (mad’u), ketimbang konten yg sarat ilmu, ilmiyah, shohih dan faktual, sehingga para Muballigh wajib cerdas melihat fenomena ini.

Kemudian dengan semakin maraknya kasus LGBTB dan Narkoba di ranah Minang ini, menjadi semakin menguatkan panitia untuk menggelar acara yg diberi nama Ijtima’ Sanawi, yang dimaknai sebagai berkumpulnya, bershilaturrahminya para Muballigh dalam waktu yang berkala, tuk membahas dan mencari solusi dari persoalan ummat, demikian disampaikan Buya Maqomam Mahmuda sebagai Ketua Panitia acara ini.

BACA JUGA  Heboh! Diduga Penyalahgunaan Narkoba, Oknum Ketua Partai di Batam Dikabarkan Ditangkap Polisi

Acara yang dikemas dalam bentuk Gebyar Muharram 1448 H ini dijadwalkan berlangsung pada 14 hingga 16 Juni 2026 di Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok.

Buya Maqomam Muda yang juga sebagai Ketua Korp Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kabupaten Solok, dan Ketua Dewan Da’wah Solok, menyampaikan bahwa kegiatan ini ruhnya ingin menyatupandangkan persepsi Muballigh/ah dari berbagai komunitas dan organisasi da’wah.

“Kami akan memanfa’atkan potensi kesamaan dan ruh perjuangan dalam menegakkan kalimatul haq. Kita hari ini, wajib tetap bersatu. Jangan lihat siapa yg melakukan, tapi lihatlah apa yg dilakukannya”. Ujarnya, Jum’at (12/06/26).

Sampai hari ini telah mendaftar para Muballigh/ah dari berbagai Komunitas, organisasi muballigh dan da’wah serta masjid-masjid. Sambutan dan antusias masyarakat sungguh sangat luar biasa.

BACA JUGA  Polri Benarkan Pihaknya Periksa Artis Yuki Kato Terkait Dugaan Promosi Judi Online

Pertemuan ini mengusung tema besar, “Da’wah Mencerahkan; Produktif dan Berkemajuan, Mengokohkan Ukhuwwah Islamiyyah dan Aqidah; Menguatkan Ekonomi Ummat, dan Mencegah Ma’shiyat.

Menuru Buya, in syaa Allaah Plt Ketua Umum MUI Sumbar, Ketua LKAAM SUMBAR, Ketua Dewan Da’wah Sumbar, Pengurus KMM Prov Sumbar, Tokoh Nasional Ustadz Dr.Fahmi Salim, Prof. Dr. M.Akhyar, Prof. Dr. Jurnalis Uddin,dan tokoh-tokoh profesional dan praktisi lainnya turut terlibat dan hadir dalam acara ini.

Gugatan Terhadap “Dakwah Amplop” dan Dominasi Pengurus Masjid

Salah satu isu paling radikal yang diangkat dalam proposal kegiatan ini adalah seruan kemandirian ekonomi para pendakwah.

BACA JUGA  Polsek Sekupang dan BPJS Ketenagakerjaan Jalin Sinergi Wujudkan Pilkada Damai 2024

Selama ini, ada kecenderungan personal pengurus masjid memposisikan mubaligh layaknya “artis mimbar” saja, yang hanya dinikmati ceramahnya lalu diberi amplop.

Akibatnya, independensi ulama kerap tergadaikan; mereka rentan tidak diundang lagi jika materi ceramahnya menyinggung kenyamanan atau berbeda paham dengan pengurus.

Untuk menaikkan kembali *’izzah* (harga diri) dan kewibawaan ulama, Ijtima’ Sanawi mendorong para dai untuk mengadopsi etos kerja para nabi dan ulama besar terdahulu yang dikenal mandiri, seperti Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang merupakan pebisnis ulung.

“Ketika kebutuhan dapur sudah terpenuhi dari usaha sendiri, muballigh tidak akan merasa sungkan untuk menyampaikan kebenaran (*al-haq*), meskipun itu pahit.

BACA JUGA  LAM Kota Batam Minta Warga Rempang Yang Ditahan Agar Dibebaskan. Ini Maklumatnya..

Melalui penguatan sektor UMKM, perdagangan, dan pertanian, mubaligh masa kini diharapkan tidak hanya mahir berteori tentang sabar dan syukur, tetapi juga memberi contoh nyata dalam menjemput rezeki halal dan membuka lapangan kerja bagi jama’ah (da’wah bil-hal).

Menolak “Main Aman”, Mubaligh juga diminta untuk Turun Gunung.

Melalui Ijtima’ Sanawi ini, juga menjadi momentum kritik otodidak bagi internal pendakwah yg hanya berkutat berda’wah di atas mimbar saja.

Terkadang tidak mau terjun ke lapangan dan suka pilah pilih dgn persoalan ummat.

BACA JUGA  Breaking News, Kebakaran Terjadi di Kampung Tua Batu Merah Kec. Batu Ampar

Di tengah maraknya Penyakit Masyarakat (Pekat) di Sumatera Barat seperti judi, narkoba, LGBT, hingga hiburan erotis, dakwah dinilai terlalu sering “main aman” di dalam masjid atau di dalam grup WhatsApp saja yang anggotanya sudah saleh-saleh.

Mengutip pesan legendaris tokoh bangsa Mohammad Natsir, “Dakwah itu merangkul, bukan memukul”.

Para mubalig didorong untuk meniru pendekatan kultural yang teduh namun tegas seperti yang pernah dilakukan oleh AR Fachruddin mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, guna menyembuhkan penyakit sosial langsung dari akarnya tanpa terjebak pada sikap menghujat atau mencari popularitas belaka.

Ditutup Pawai Akbar dan Deklarasi Az-Zaimah

BACA JUGA  Polres Pasaman Diminta Segera Tangkap Pelaku PETI Yang Diduga Bernama JEK

Rangkaian acara tiga hari ini akan diisi oleh pakar nasional lintas daerah, termasuk pakar ekonomi syariah, seperti Buya Prof. Dr. Muhammad Akhyar Adnan, MBA., hingga Plt Ketua MUI Sumbar Buya Dr. H. Zulkarnaini, M.Ag, dan Ketua LKAAM Sumbar Prof.Dr.Fauzi Bahar.

Puncak perhelatan pada 1 Muharram 1448 H akan dimeriahkan dengan Tabligh Akbar yg dihadiri oleh Da’i Nasional alumni s.1,.s2.s3 Al Azhar Mesir Kairo, Dr.Fahmi Salim,Lc.MA.

Pawai Akbar melibatkan ribuan warga, terdiri dari BKMT, dan organisasi otonom Muhammadiyah, para siswa, MUI Nagari dan warga lainnya.

Sebagai penutup, seluruh peserta akan membacakan “Deklarasi Az-Zaimah”di Masjid Az-Zaimah Nagari Sulit Air, sebuah manifesto bersama untuk mengukuhkan peran mubaligh sebagai penggerak perubahan sosial demi mewujudkan umat terbaik.

BACA JUGA  Breaking News, Sitinjau Lauik Kembali Longsong. Gubernur Sumbar & Rombongan Nyaris Jadi Korban

Penulis : Dedi

Editor : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *