RBNnews.co.id, Natuna – Kecelakaan dan kondisi darurat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Di laut, di jalan, di sekolah, bahkan di rumah. Dalam situasi seperti itu, keselamatan korban tidak hanya bergantung pada kecepatan tim penyelamat datang ke lokasi, tetapi juga pada tindakan orang-orang di sekitar korban dalam lima menit pertama setelah kejadian.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna mengajak seluruh masyarakat, mulai dari pekerja, ibu rumah tangga, hingga pelajar, untuk tidak hanya menjadi penonton saat terjadi keadaan darurat. Semua orang dinilai perlu memahami keterampilan dasar pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar.
Pentingnya Pertolongan Pertama
Dalam kondisi kecelakaan maupun korban tenggelam, waktu menjadi faktor penentu keselamatan. Tim SAR, ambulans, maupun tenaga medis membutuhkan waktu untuk tiba di lokasi, terlebih di wilayah kepulauan seperti Natuna dan Anambas yang memiliki tantangan jarak dan cuaca.
Karena itu, masyarakat yang berada pertama kali di lokasi kejadian memiliki peran sangat penting. Dengan memahami dasar-dasar pertolongan pertama, seseorang dapat memberikan bantuan awal untuk menjaga peluang hidup korban hingga bantuan profesional datang.
Tujuan utama pertolongan pertama adalah mempertahankan fungsi vital tubuh korban agar tetap berjalan sampai mendapat penanganan medis lanjutan.
Golden Period: 4 – 6 Menit Penentu Keselamatan
Dalam dunia medis darurat dikenal istilah golden period atau periode emas, yakni rentang waktu 4 – 6 menit setelah kejadian ketika peluang menyelamatkan nyawa korban masih sangat besar.
Pada kasus henti napas dan henti jantung, tindakan CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau bantuan napas yang dilakukan dalam periode tersebut dapat mencegah kerusakan otak permanen. Setelah melewati enam menit, risiko kerusakan otak hingga kematian meningkat secara signifikan.
Artinya, tindakan cepat dan tepat dari orang di sekitar korban dapat menjadi penentu antara hidup dan mati, maupun antara pemulihan total dan cacat permanen.
Keterampilan Dasar yang Perlu Dipelajari
Masyarakat tidak harus menjadi dokter atau tenaga medis untuk bisa memberikan pertolongan awal. Sejumlah keterampilan dasar dapat dipelajari melalui pelatihan singkat, di antaranya:
– CPR dan bantuan napas untuk korban yang tidak bernapas atau mengalami henti jantung
– Penanganan korban tenggelam dan menjaga jalan napas tetap terbuka
– Penanganan luka dan pendarahan sementara
– Teknik posisi aman bagi korban pingsan agar tidak tersedak
– Penanganan tersedak dengan teknik Heimlich untuk anak maupun dewasa
– Keterampilan tersebut relatif mudah dipelajari, tidak memerlukan alat khusus, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
SAR Natuna Ajak Masyarakat Aktif Belajar
Kantor SAR Natuna secara rutin membuka kegiatan edukasi dan simulasi pertolongan pertama bagi sekolah, komunitas, instansi, dan masyarakat umum.
Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, mengatakan setiap orang yang berada dalam kondisi darurat masih memiliki peluang untuk selamat apabila mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
“Setiap orang pada kondisi darurat masih bisa tertolong apabila dilakukan penanganan yang tepat dan cepat. Menguasai ilmu dasar pertolongan pertama selama golden period adalah bekal yang harus dimiliki semua orang,” Ujarnya, Minggu (17/05/26).
Ia menambahkan, menjadi penolong tidak harus menunggu menjadi tenaga profesional seperti dokter atau petugas SAR. Dengan menguasai satu keterampilan dasar saja, seseorang sudah dapat membantu menyelamatkan nyawa orang di sekitarnya.
Keselamatan Tanggung Jawab Bersama
Masyarakat diimbau mulai mempelajari keterampilan pertolongan pertama sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Semakin banyak orang yang memahami cara memberikan bantuan awal, maka lingkungan akan menjadi lebih aman bagi semua.
Untuk informasi pelatihan pertolongan pertama, masyarakat dapat menghubungi kantor SAR terdekat atau fasilitas layanan kesehatan di wilayah masing-masing. (Wan)












