Secangkir Kopi dan Mimpi Pemuda Desa Batu Berapit Jemaja

Kepri, Opini153 Views

RBNnews.co.id, Anambas – Sore itu tidak ada panggung megah. Tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga, apalagi barisan atribut politik yang biasanya memenuhi ruang menjelang pesta demokrasi desa.

Yang terdengar hanya suara ombak kecil dari dermaga, denting sendok kopi, dan tawa ringan para pemuda kampung yang sedang berbicara tentang masa depan desa mereka, Selasa (19/05/26).

Di sebuah warung sederhana di Dermaga I Jemaja, empat orang duduk santai di kursi plastik.

Asap kopi hitam mengepul perlahan, sementara langit tampak cerah menaungi obrolan yang mengalir hangat.

Di antara mereka, ada dua nama yang belakangan mulai dikenal warga sebagai calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD): Ardino Amd.PI dari Dusun I dan Indri dari Dusun II.

Tidak ada janji politik yang berlebihan dalam percakapan itu.

Ardino dan Indri justru lebih banyak berbicara tentang keresahan warga, suara masyarakat yang sering tak tersampaikan, hingga harapan agar anak muda desa tidak hanya menjadi penonton pembangunan.

Bagi mereka, desa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang harus dijaga bersama.

“Yang paling penting itu bagaimana mereka mau duduk bersama, mendengar masyarakat, dan menjaga kebersamaan. Desa ini dibangun bukan oleh satu orang, tapi oleh semua yang peduli. Pemuda adalah pondasi kemajuan desa,” ujar Ustad Qosim yang sore itu turut menemani perbincangan.

Ucapan itu diamini Ardino. Dengan nada tenang, ia mengaku pencalonannya bukan semata soal jabatan atau posisi.

Ia ingin menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah desa, terutama bagi warga yang selama ini merasa aspirasinya belum benar-benar terdengar.

pemerintah desa, terutama bagi warga yang selama ini merasa aspirasinya belum benar-benar terdengar.

“Saya hanya ingin masyarakat merasa didengar. Kalau ada keluhan atau kebutuhan warga, kita duduk bersama mencari solusi,” katanya.

Dalam obrolan santai itu, Ardino juga memperkenalkan prinsip sederhana yang menurutnya penting dimiliki seorang anggota BPD: PSK – Penampilan, Sikap, dan Kerja.

Bukan sekadar istilah, menurutnya tiga hal itu menjadi cara seseorang menunjukkan kesiapan mengemban amanah masyarakat.

“Penampilan menunjukkan kesiapan, sikap mencerminkan kepedulian, dan kerja adalah bukti nyata untuk masyarakat,” ujarnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Indri lebih banyak menyoroti pentingnya tata kelola desa yang terbuka dan partisipatif.

Ia berharap BPD tidak hanya menjadi lembaga formal, tetapi benar-benar hadir sebagai penyambung suara masyarakat.

“Pengawasan dan menjembatani kepentingan masyarakat sangat penting demi terwujudnya desa yang transparan, partisipatif, dan sejahtera,” ungkapnya.

Percakapan sore itu terasa sederhana, tetapi penuh makna. Di balik secangkir kopi dan kursi plastik murah, tersimpan harapan besar tentang masa depan Desa Batu Berapit.

Harapan agar pemuda desa tetap mau peduli, mau mendengar, dan mau bergerak bersama membangun kampung halaman mereka sendiri.

Bagi mereka, pemilihan BPD yang akan digelar pada Minggu, 24 Mei 2026 nanti mungkin memang bagian dari pesta demokrasi desa.

Namun lebih dari itu, momentum ini menjadi penanda bahwa Mereka Anak muda mulai berani mengambil peran.

Sebab pada akhirnya, siapa pun yang terpilih nanti bukan hanya soal menang atau kalah.

Yang paling penting adalah hadirnya generasi muda yang masih memiliki niat tulus untuk menjaga desa, mendengar masyarakat dengan hati, dan bekerja demi masa depan Batu Berapit yang lebih baik. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *